Deja Vu, Pengalaman Masa Lalu Yang Tak Nyata

Posted on | Minggu, 23 Januari 2011 | No Comments


Seringkali dalam hidup ini kita merasakan suatu peristiwa yang kita alami sudah pernah dialami berkali-kali dalam hidup ini, peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung kita anggap telah terjadi pada kehidupan masa lalu kita. Saya pun pernah mengalami hal seperti itu suatu peristiwa yang akan berlangsung telah saya rasakan pada kehidupan saya yang dulu, akan tetapi bila di cari faktanya ternyata saya tidak mengetahui dan mengalami peristiwa tersebut, sehingga saya pernah mengira apakah fenomena ini yang dikatakan KARMA, ternyata melalui salah satu artikel saya menemukan jawabnya hal ini di sebut DEJA.
Déjà vu berasal dari salah saru kata atau frasa bahasa Perancis yang arti secara harfiahnya adalah“pernah melihat”. Maksudnya, seseorang mengalami suatu pengalaman yang dirasakan olehnya pernah dialami sebelumnya.
Venomena ini (Deja vu) pertama kali ditemukan dan diungkapkan oleh seorang ilmuwan Perancis yang bernama Emile Boirac yang telah mempelajarinya pada tahun (1851-1917)  dan dibukukan yang berjudul “L’Avenir des sciences Psychiques” yang ditulisnya pada saat dia mengenyam pendidikan di University of Chicago.
Definisi déjà vu secara ilmu kejiwaan, menurut Dr. Vernon Neppe MD, PhD, Direktur Pacific Neuropsychiatric Institute (PNI), adalah pengaruh subjektif mengenai anggapan adanya kesamaan pengalaman saat ini dengan masa lalu yang sulit dijelaskan. Sedangkan James Lampinen, profesor psikologi dari University of Arkansas mendefinisikan déjà vu sebagai perasaan begitu kuat mengenai adanya kesamaan global yang terjadi pada situasi baru. Kesamaan pengalaman dalam déjà vu ini bersifat keseluruhan, hingga setiap detail terkecil, mirip sekali dengan yang pernah dialami seseorang di masa lampau. Tapi pengalaman ini selalu disertai dengan perasaan tidak nyata.

Pengalaman déjà vu biasanya dibarengi dengan perasaan “sudah kenal” atau “sudah tahu” atau merasa “sudah pernah mengalami”. Sering kali déjà vu menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan karena manusia seperti dipaksa secara tidak sengaja untuk menyaksikan potongan film kehidupannya yang mungkin menyeramkan, ganjil, atau bahkan tidak masuk akal. Biasanya pengalaman ini berhubungan dengan mimpi walaupun dibeberapa kasus secara jelas pengalaman ini “pernah benar terjadi sebelumnya”.

Déjà vu ini memiliki beberapa variasi, yaitu:
  1. Déjà vecu yang artinya pernah mengalami
  2. Déjà senti yang artinya memikirkannya
  3. Déjà visite yang artinya mengunjunginya
Ada juga tipe déjà vu, yaitu:
  1. Déjà vu yang berkaitan dengan kehidupan pribadi (life déjà vu)
  2. Déjà vu yang berkaitan dengan perasaan (sense / feeling déjà vu)
  3. Déjà vu yang berkaitan dengan tempat (place déjà vu)
  4. Kombinasi dari ketiga gejala déjà vu tersebut, dimana seseorang merasa pernah hidup sebagai orang lain di suatu tempat dan waktu yang sama, bahkan merasakan perasaan yang sama pula.
Dari beberapa variasi dan tipe déjà vu diatas, maka dapat ditarik hubungan bahwa:
  • Déjà vecu merupakan déjà vu yang berkaitan dengan kehidupan pribadi (life déjà vu)
  • Déjà senti merupakan déjà vu yang berkaitan dengan perasaan (sense / feeling déjà vu)
  • Déjà visite merupakan déjà vu yang berkaitan dengan tempat (place déjà vu)
Terkadang déjà vu juga diuraikan seperti perasaan yang telah melihat atau mengalami sesuatu sebelum ketika orang yang mengalami hal tersebut mengetahui kapan dia pernah melakukannya. Namun déjà vu disalahgunakan sebagai suatu pengalaman precognitive, perasaan pernah mengalami sesuatu dan mengetahui persisnya apa yang akan terjadi berikutnya, dan itu terjadi.
Suatu hal yang penting dari déjà vu adalah mengalami sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sedangkan suatu hal yang penting dari precognitive adalah menunjukkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan, namun bukan suatu hal yang pernah dilakukan atau dilihat di masa depan.
Déjà vu dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu:

1. Associative Déjà Vu
Tipe déjà vu yang paling umum dialami oleh orang-orang sehat normal adalah associative secara alami di dunia ini. Manusia melihat, mendengar, membaui atau mengalami suatu kejadian yang berkaitan dengan suatu perasaan bahwa manusia tersebut berhubungan dengan sesuatu yang telah dilihat, didengar, dibaui, atau dialami oleh manusia tersebut. Ilmuwan terdahulu berpikir bahwa déjà vu jenis ini adalah suatu pengalaman “ingatan dasar” dan berasumsi bahwa pusat memori otak yang bertanggung jawab untuk itu.


2. Biological Déjà vu
Ada juga kejadian déjà vu antar orang-orang dengan epilepsi cuping sementara. Tepat sebelum epilepsi, penderita sering mengalami atau merasa déjà vu. Dengan adanya pengklasifiasian di atas dapat teridenfikasi bahwa isyarat otak dimana déjà vu jenis ini dimulai. Namun, dengan alasan ini puladéjà vu jenis ini berbeda dengan tipikal déjà vu sendiri. Orang yang mengalami déjà vu jenis ini mungkin akan mempercayai bahwa mereka telah mengalami peristiwa atau keadaan yang sama sebelumnya, dibanding dengan perasaan yang cepat berlalu.

Pengertian Déjà vu dari sudut pandang psikologi adalah ilusi seperti sudah kenal / sudah akrab dengan suatu tempat yang sama sekali asing. Timbulnya peristiwa ini diyakini orang sebagai akibat adanya syarat yang sudah dikenali, namun ada dalam sub-ambang kesadaran. Sebagai contoh, ketika berjalan-jalan ditengah kota, beberapa ciri tampak seperti sama dengan penghayatan yang pernah dialami di tempat lain.
Intinya deja vu merupakan suatu fenomena aktivitas otak manusia yang berkaitan dengan memori yang lazim disebut “pemanggilan ulang”. Penjelasan ini memperkuat fakta bahwa “penataan ulang memori”pada saat tertentu mempengaruhi keadaan alam sadar manusia. Bannister dan Zangwill (1941) mencoba menganalisis déjà vu dengan menggunakan hypnosis pada 10 subjek penelitian. Ternyata 3 dari 10 di antaranya mengalami déjà vu. Cleary (2008) mengajukan hipotesis bahwa déjà vu merupakan bentuk dari sesuatu yang telah familiar diketahui yang disebut cripyamnesia adalah susuatu yang telah dipelajari namun tidak disimpan baik di otak, namun pada suatu waktu memori dalam “membukanya”.
Yang jelas hampir 70% manusia pernah mengalami déjà vu walau tanpa mereka sadari, dan déjà vubukan merupakan suatu penyakit psikologis maupun penyakit gangguan pada Otak, tetapi lebih pada suatu akibat dari kegiatan otak / memori tentang suatu objek tanpa kita sadari.


Share

print halaman iniPrint halaman ini

Baca Juga Ini





Comments

Silahkan tuliskan komentar atau pertanyaan anda...!!!

Search

Pilih Bahasa

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Berlangganan

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner


subscribe
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Komunitas

Blog Info



Free Page Rank Tool
IP
free counters